• Bidang Studi

    Berkenaan dengan tujuan tersebut, Fakultas Pertanian Universitas Wisnuwardhana Malang telah mengembangkan 2 (dua) program studi, yaitu:
    Program Studi Hortikultura
    Program Studi Sosial Ekonomi Pertanian
    Read More
  • Tujuan

    Fakultas Pertanian Universitas Wisnuwardhana Malang mempunyai tujuan menyiapkan diri menghasilkan lulusan berkualitas yang dicirikan: Bertaqwa kepada Tuhan YME, mempunyai integritas kepribadian tinggi, berwawasan  luas, mampu merancang bangun usaha tani secara ... Read More
  • Rasional

    Pertanian secara luas diartikan sebagai kegiatan yang terkait dengan produksi tanaman, peternakan dan perikanan. Namun sec... Read More
Calendar Tuesday, September 7, 2010
Text Size
   
Fakultas Pertanian
Universitas Wisnuwardhana Malang
Jl. Danau Sentani No. 99 Malang
Telp. 0341 - 713604
Fax. 0341 - 713603
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
faperta.wisnuwardhan.ac.id

Total Akses

We have 10 guests online

Perakitan Varietas Jagung Hibrida
Written by Ir. Idiek Donowarti, M.P.   
Saturday, 12 July 2008

Kebutuhan akan pangan karbohidrat yang semakin meningkat akibat pertumbuhan penduduk sulit dipenuhi dengan hanya mengandalkan produksi padi, mengingat terbatasnya sumber daya terutama lahan dan irigasi. Jagung merupakan bahan pangan karbohidrat yang dapat membantu pencapaian dan pelestarian swasembada pangan. Disamping itu, jagung juga merupakan bahan pakan, bahan ekspor nonmigas dan bahan baku industri (Subandi et al., 1998).

Varietas jagung hibrida telah terbukti memberikan hasil yang lebih baik dari varietas jagung bersari bebas. Secara umum, varietas hibrida lebih seragam dan mampu berproduksi lebih tinggi 15 - 20% dari varietas bersari bebas (Morris, 1995). Selain itu, varietas hibrida menghasilkan biji yang lebih besar dibandingkan varietas bersari bebas (Wong, 1991).

Jagung hibrida merupakan generasi F1 hasil persilangan dua atau lebih galur murni (Singh, 1987) dan memiliki perbedaan keragaman antar varietas, tergantung dari tipe hibridisasi dan stabilitas galur murni (Agrawal, 1997). Komersialisasi jagung hibrida sudah dimulai sejak tahun 1930, namun penanaman jagung hibrida secara luas (ekstensif) di Asia baru dimulai pada tahun 1950-1960. Di sebagian besar negara berkembang, 61% dari lahan pertananaman jagung masih ditanami varietas bersari bebas (CIMMYT, 1990). Hal ini dimungkinkan karena varietas bersari bebas lebih mampu beradaptasi pada kondisi lahan marginal (Pallival dan Sprague, 1981).

Meskipun demikian, varietas jagung hibrida telah memberikan hasil yang memuaskan di sebagian negara-negara berkembang, terutama di negara-negara yang sudah memiliki industri benih swasta. Varietas hibrida memiliki keunggulan dibandingkan dengan varietas bersari bebas, diantaranya mampu berproduksi lebih tinggi 15 - 20% dan memiliki karakteristik baru yang diinginkan seperti ketahanan terhadap penyakit. Selain itu, penampilan varietas hibrida lebih seragam (Morris, 1995), dimana varietas bersari bebas pada umumnya memiliki keragaman yang tinggi pada karakteristik tongkol dan biji (Agrawal, 1997).

 
< Prev   Next >
Universitas Wisnuwardhana Malang