| Fakultas Pertanian |
| Universitas Wisnuwardhana Malang |
| Jl. Danau Sentani No. 99 Malang |
| Telp. 0341 - 713604 |
| Fax. 0341 - 713603 |
| This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it |
| faperta.wisnuwardhan.ac.id |
Total Akses
We have 9 guests online| Phytoalexin, Metabolisme Cekaman, dan Ketahanan Penyakit pada Tanaman |
| Written by Qomaruddin, S.Tp., M.Pm. | |
| Saturday, 12 July 2008 | |
|
Phytoalexin adalah senyawa antimikroba dengan berat molekul yang kecil yang terakumulasi dalam tanaman sebagai akibat dari infeksi atau cekaman. Kecepatan dan level akumulasinya ditentukan oleh pelepasan prekursor langsung dari konjugasi dan/atau sintesis de novo. Kecepatan akumulasi phytoalexin berasosiasi dengan ketahanan tanaman terhadap penyakit yang disebabkan oleh fungi dan bakteri, meskipun informasi genetik untuk sintesis phytoalexin ditemukan pada tanaman peka dan tahan. Muller dan Borger memperlihatkan bukti yang kuat bahwa ketahanan tanaman kentang terhadap Phytophthora infestans disebabkan oleh produksi senyawa fungitoksik oleh inang. Pada tanaman yang peka, produksi senyawa tersebut tertekan atau terdetoksifikasi. Ketahanan ras-spesifik yang dipelajari tidak disebabkan oleh ketiadaan infeksi. Mereka mengemukakan, senyawa toksik terbentuk setelah infeksi pada interaksi resisten. Konsep ini merupakan dasar teori phytoalexin. Ini menjadi bukti bahwa kecepatan dan besarnya senyawa antifungi yang dihasilkan adalah penting dalam ketahanan terhadap penyakit dan umbi kentang dapat dilindungi dari penyakit yang disebabkan oleh ras P. infestans yang kompatibel melalui inokulasi sebelumnya dengan ras yang inkompatibel. Selain itu terbukti juga bahwa kepekaan tidak disebabkan oleh ketiadaan gen untuk senyawa pertahanan pada inang, namun lebih disebabkan oleh waktu dan intensitas ekspresinya. Pada tahun-tahun berikutnya, Muller merancang metode klasik untuk elisitasi phytoalexin pada tanaman. Berdasarkan studi tersebut dan pengamatan sebelumnya pada kentang, Muller mendefinisikan phytoalexin sebagai senaywa yang dihasilkan setelah infeksi di bawah pengaruh sistem metabolik inang dan parasit, serta bersifat menghambat parasit. Penelitian Cruickshank & Perrin membuktikan konsep phytoalexin pada level molekuler. Definisi Muller tentang phytoalexin tidak cukup inklusif lagi ketika diketahui bahwa akumulasi phytoalexin tidak dibatasi oleh infeksi, meskipun terjadi setelah infeksi. Seiring dengan kemajuan penelitian tentang phytoalexin, banyak definisi phytoalexin yang diusulkan, diantaranya adalah: phytoalexin adalah senyawa antimikroba dengan berat molekul yang kecil yang terakumulasi dalam tanaman sebagai akibat dari infeksi atau cekaman. Penting ditekankan bahwa phytoalexin tidak unik untuk infeksi dan akumulasinya setelah infeksi hanya mencerminkan akumulasinya sebagai respon terhadap cekaman akibat infeksi belaka. |
| < Prev | Next > |
|---|




